Hampir separuh jalan para sempakers merajut jembatan meraih impiannya (barangkali, impian orang tuanya pula). *intro sepanjang jalan kenangan* Memilih ilmu hayat sebagai rekan seperjuangan atau menjadikan kajian sosial sebagai kudapan.
Menjumpai kawan-kawan baru, kurikulum baru, sistem belajar baru, tekanan-tekanan baru, target-target baru, kebiasaan-kebiasaan baru, dan semangat-semangat baru (percayalah itu ada) .
Kita lantas merasa sibuk akan rutinitas-rutinitas yang membuat kesal dan kesel. Kesulitan mengatur jadwal belajar, kekurangan jam tidur, dan melupakan kepengurusan blog ini. (tidak. Bukan berarti saya mbatang dumeh ngisi blog ini. Saya mencuri waktu diantara penjelasan panjang lebar Om Tanto --)
Diantara hiruk pikuk kehebohan civitas akademika sempak segitiga, diakui atau tidak, terkadang memori-memori masih sering terputar kembali. Moment-moment kebersamaan yang tiada tergantikan…(tatapan menerawang, sesekali menekan tombol minimize, sambil celingak-celinguk waspada).
Rindu.
Ya, pasti ada sesuatu, yang entah apa itu, yang belum bisa kita temui di suaka yang baru ini. Setiap saya masuk kelas Bapak Paijan, S.Pd. di IPS 1, saya tidak sepenuhnya berkonsentrasi (ya , saya jadi warga negara yang tidak baik kala itu). Saya justru sibuk mengingat-ingat apa-apa saja yang pernah terjadi di ruang pengap nan gelap itu. (nah lho, ketahuan sebabnya saya tidak mahir PKn..)
Rindu.
Mengingatkan saya pada sebait lagu yang beraliran blues:
Rindu…
Mengapa rindu hatiku tiada tertahan..
Kau biarkan aku seorang..
Kala hatiku sedang rindu pada siapa ku mengadu
Kala hati bertanya slalu
Berlinanglah air mataku..
Ya saya tahu ini tidak klimaks..tapi Om Tanto senantiasa melirik seram ke arah saya. Segesit apa pun saya mengelabuinya dengan menekan tombol minimize secara kontinyu, saya tetaplah manusia biasa, pelajar SMA 3, kelas dua, dan bermuka mirip guru TIKnya..
WKWKWKWKWK
BalasHapusKangen SSRR :')
<3
BalasHapussekar tetep lucu :D
iyanih.. aku kalo masuk ke S1 juga atmosfernya kangen x5 :'(
BalasHapus