Sabtu, 18 Desember 2010

Gemeter akhir semester

Hari ini, 18 Desember 2010, sangat panas ngenthak-enthak (bilang e-nya seperti kalau bilang endhog)
Tidak. Sebenarnya lebih daripada sorot ganas sang Bagas. Tapi, aura panas yang berhembus dari ruang-ruang kelas. Tatapan-tatapan memelas dan teguran yang tegas.

Hari ini (seyogyanya) disambut dengan euphoria yang tidak kalah dengan gegap gempita gita bahana kemenangan Timnas Indonesia. Namun, apalah mau dikata, senyum-senyum getir, humor-humor satir, meluncur begitu saja diantara jiwa-jiwa yang khawatir ketar-ketir. Bagaimana tidak? Perjuangan, pengharapan, penghargaan, hingga penistaan akan segera diproklamirkan dalam tiap deret-deret aksara dan angka.

Saudaraku, beberapa hari yang lalu, saya membaca coretan dalam sebuah buku. Baitnya sendu mendayu-ndayu. Tercermin betapa perih hati penulis itu, laksana disayat-sayat sembilu. Saya pun terbawa mengharu biru kala itu. Dalam baitnya itu, ia menuliskan, betapa dirinya kurang kepercayaan. Kehadirannya di tengah-tengah kita umpama sebuah kekeliruan.Ia berkata bahwa pikirnya nir pengetahuanan, hatinya nir kebijaksanaan,namun nuraninya berseru, perjuangannya kali ini berpedang kejujuran.
Sungguh, saudara kita ini, memiliki keteguhan seteguh Mario Teguh.

Sauadaraku yang luar biasa, terkadang kita mudah merasa hina akan apa yang kita punya. Namun, yakinlah diatas langit masih ada langit, di bawah tanah masih ada tanah

Ya, sebenarnya itu semua tidak berkaitan, samasekali tidak.
Sebenarnya, saya mau memasukkan tulisan uwuh ini di blog saya sendiri.Tapi, berhubung saya lupa password dan alamat blog saya, maka saya terpaksa mencekoki para sempakers yang malang dengan bacaan yang sama sekali tidak berbobot ini.

Baiklah, sampai jumpa di kesempatan yang akan datang (yang entah kapan).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar