Minggu, 15 Mei 2011

Elegi dalam Kalender

Kemarin, saya mencermati kalender di ruang tamu rumah saya yang kecil dan bercat kuning ngejreng. Pak Bupati, Sri Purnomo asyik ngobrol dengan seorang bapak-bapak londo ,yang setelah saya baca tulisan dibawahnya, adalah duta besar Swiss untuk Indonesia. Beliau-beliau ini seolah tidak menggubris saya yang memicingkan mata di depannya. Tetap saja asyik ngobrol, yang entah kenapa, seolah tidak pernah bosan melakukannya sejak kalender itu dicenthelkan di situ.


Sebenarnya bukan Pak Bupati atau Pak Duta Londo itu yang sedang saya pentelengi. Saya hanya menghitung hari-hari yang tersisa menjelang tahun terakhir saya, maaf, kita di sekolah menengah atas ini. Ternyata tidak lama. Ya mungkin waktu yang bergulir cepat itu akan terasa berharga bila kita menunggu bis, antre minyak tanah, nunggu giliran WC, masuk kelas PKn atau Pak BuSet. Tetapi,waktu yang hanya tinggal singkat ini, seperti tidak adil bila untuk naik kelas.

Sepertinya, waktu itu belum cukup untuk mengeringkan jemuran sempak-sempak yang basah oleh terpaan dan hempasan arus serta riak-riak dinamika akademika Padmanaba.Tidakkah demikian?

Saya menatap Pak Sri Purnomo, siapa tahu, beliau bisa memberikan petuah bijak yang dapat menenagkan hati saya. Namun beliau diam saja. Saya ganti memandang Pak Duta Londo, barangkali beliau bisa menyarankan sesuatu yang mustajab, sekalipun nanti saya tidak paham. Setali tiga uang dengan Pak Sri, beliau juga membisu seribu bahasa. Saya pun kembali mementelengi angka-angka itu, berharap mereka berputar mundur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar