Kamis, 08 Juli 2010

Flying with Lady Bug is Amazing

Makrab #3 adalah kali pertama bagi saya menginap dengan makhluk-makhluk sirkus dari SSRR. Sebelumnya, Makrab #2 saya cuma separuh jalan, sementara Makrab perdana saya tidak dapat datang.
Suatu sensasi tersendiri ketika di subuh hari saya menemukan "sempak boys" bergelimpangan dengan pose masing-masing di ruang tengah. Saya jadi teringat pada barak pengungsian TKI yang masih menunggu proses deportasi karena tidak punya izin bekerja.
Amik tidur di pojok ruang mepet tembok dengan kaki kanan bertumpu pada kaki lainnya (bayangkan ketika Anda duduk nongkrong di warteg, kira-kira begitu). Di sampingnya, Bima tidur berbungkus sarung, menyediakan perutnya untuk tidur makhluk lain, sebut saja Reno. Sementara, Niko tidur tumpang tindih, silang siur, dengan gundukan yang mirip Nidhar. Luthfi sejahtera di tengah arena juga berbalut sarung yang menimbulkan dilema (ditarik ke atas kaki dingin, dilorot ke bawah badan menggigil). Nun jauh di sana di bawah gordyn, segumpal daging mengonggok setengah nungging, sesekali kepalanya bergerak-gerak mengibaskan segerombolan nyamuk yang mengerubuti pipi gembilnya. Awing memang menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Sisanya asik dengan style masing-masing (mengkurep, mlumah, miring, njingkrung, dan masih banyak lagi). *kapan lagi saya bisa melihat fenomena gaib macam ini*.

Meskipun, hanya semalam *muncul intro Cinta Satu Malam* Makrab ini sangat mengesankan. Tetapi, pilihan harinya yang termasuk hari kerja (Kamis) membuat saya bingung juga. Bagaimana tidak? Orang tua saya tentu tidak dapat menjemput, intinya saya harus nebeng.
Alhasil, saya harus meminta keikhlasan sempakers untuk menjadikan saya rekan seperjalanannya.
Tadinya, bisa saja saya numpang mobil Kiki, tapi jam 5 sore. (Hiks, saya cuma bawa sediaan baju untuk sehari, pagi tok). Kiki pun dengan lantang plus suaranya yang khas (kalo Anda ingat pedagang yang memprotes lantang Satpol PP yang menggusur lapaknya, ya begitulah warna vocal Kiki kala itu) menawarkan siapa yang rela menebengi saya sampai Condongcatur. Setelah senyap sesaat, Awing pun mengikhlaskan boncengannya untuk saya. *Tiba-tiba muncul sayap putih di punggungnya dan lampu spot dari segala penjuru mengarah kepadanya diiringi lagu You Rise Me Up, lonceng-lonceng berdentangan*
Saya pun merasa tertolong. Tapi, tiba-tiba lampu spot padam, sayap terlipat, lagu berhenti dan lonceng berguguran. Awing harus cepat pulang, karena ibunya memintanya begitu. (Di suatu saat, memang Ibu adalah ketaatan yang tidak bisa dinego. Seperti Ibu saya yang melarang saya naik matic). Saya sih oke-oke saja, ya gak masalah. Awing yang agaknya ingin mengembangkan sayapnya lagi pun mencarikan saya relawan lain. Dan akhirnya, pilihan jatuh kepada Amik. Dengan sedikit ragu, ia pun mengiyakan. Saya tidak yakin ia sepenuhnya sadar ketika bilang "ya" karena matanya hanya sekitar 60 persen terbuka.
Giliran saya yang agak ragu-ragu. Bajaj Pulsar terparkir dengan angkuh di pelataran villa. Lampunya yang besar melirik sangar seolah bilang "Apa kamu liat-liat?! Nantang?! Grrrr.."
Pantatnya (baca: jok boncengan) njedhit ke atas seperti tak segan-segan membuat kontal penebeng yang tidak siaga. Kulitnya yang hitam legam mengkilat mengkukuhkan imej garang dan atos. Ya Allah masa iya, hamba mbonceng benda ini...
Tapi, ya bagaimana lagi, saya sih MPC (Mboh Piye Carane) sampai rumah dengan selamat tanpa kurang suatu apa. Jujur ada sedikit rasa pekewuh dan rikuh juga, merasa ngrepotin *ya emang ngrepotin, baru nyadar Mpok?*
Saya juga bilang ke si pemilik Bajaj, ya intinya maaf ya ngrepotin. Dia sih, iya iya aja. Tapi, entah pengaruh sop atau ayam goreng makan siang kami yang merubah pendirian si Abang Bajaj ini.
"Kamu sama Kepik.."
Ya, oke lah kalau begitu..
Dan ternyata Kepik menyambut saya dengan suka cita dan gegap gempita *dasar, kenapa gak dari awal tadi....*
Pukul 13.00 serombongan kecil kloter pulang pun berangkat. Di pole position, Amik bersiap dengan Bajaj nya yang masih melirik garang. Di grade kedua, Bima dan co pilot, Sucip (suatu kolaborasi yang hebat. Untung Bima pilotnya, kalau Sucip, mungkin motor itu akan berjalan dengan roda belakang saja). Duet Wulan dan Selley Prikiteuw dengan vario belang ijo putih mengintai di baris ketiga. Nah ini dia, dua orang gadis kecil yang sama-sama menggunakan helm over size alias lobok, Gary dan Lailla masih cekikikan di belakang vario belang. Praktis, saya dan Raden Mas Fariz Yusuf Bakhtiar Djayadiningrat Kusumadipraja Natabatalima Tibasanga alias Kepik pun bercokol di baris terbelakang. Bermodalkan helm silian dari Mirla, saya pun duduk di jok belakang Honda Revo biru itu.
Setelah berpamitan dan diiringi tabuhan rebana serta letupan kembang api, kami pun berangkat. Seperti posisi semula, BAJAJ melesat meninggalkan yang lainnya. Untungnya, tiga rider lainnya masih tampak.
Sepanjang jalan, seperti biasa, Kepik mengajak saya ngobrol (sebenarnya cenderung monolog). Namun, angin yang berhembus kencang, mesin montor yang menderu-deru, dan helm yang menyumbat telinga membuat saya tidak menangkap jelas pidato singkat itu.
Jadi, saya sih cuma ber-Ho'o atau ber- Lha iya, berhubung tidak dengar. Kalau diam saja nanti saya dikira semaput atau kecer di jalan, mangkanya saya sebisa mungkin merespon.
*cobalah Anda hidupkan hair dryer atau kipas angin dengan kekuatan full, lalu cobalah hadapkan ke muka Anda dan mulailah bicara dengan tempo secepat-cepatnya. Begitulah suara Kepik terdengar*
Di depan jauh, si Abang BAJAJ menikung ngepot dengan kecepatan tinggi (pokoke gaya sak kemenge). *ya jenis mabok valentino rossi stadium lanjut*
Bima dan Sucip masih melaju di belakangnya, duet vario belang mengikuti (saya membayangkan Selley mengacungkan clurit *insiden Casa Grande* dan bergidik ngeri sendiri).
Duo helm lobok masih cekikikan di depan kami (entah mereka geli karena obrolan atau karena mereka saling tidak nyambung).
"Gimana nih Budhe, kita ketinggalan nih"
"Yo ben. Nek kamu mau tiru-tiru ngepot kaya Amik, sana mboncenga Amik njuk motormu tabawa pulang. Bali mlaku.."
"Nggak Budhe nggak budhe..hehe"
*Kepik kadang memanggil saya Budhe (emang pakdhenya suka ngasih saya uang blanja apa?). Ini adalah obrolan yang sedikit jelas terdengar*
Amik masih memimpin. Melaju cepat pada tikungan-tikungan tajam dengan kemiringan hampir 45 derajat. Menyalip Bus JOGJA-KALIURANG, menyelip diantara truk pasir dan pick up sayur, mengkepot mobil jeep, dan nyaris menyenggol pit mini.
Bima dan Sucip tampak antusias mengobrol. Sesekali tangan Sucip teracung dan menunjuk-nunjuk.
Ajaib entah bagaimana caranya tim vario belang hilang dari trek, mungkin over lap.*saya jadi merasa yakin dengan bayangan clurit itu, jangan-jangan betul*
Duo helm lobok masih tertawa-tawa.

Sesampainya di prapatan Kentungan, tim saya memisahkan diri dari konvoi. Lalu belok kiri menuju ring road. Dengan sedikit pengarahan, akhirnya saya pun sampai di depan rumah. Ah..leganya.

Begitulah pengalaman saya terbang bersama Kepik. Flying with Lady Bug is Amazing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar